Renungan 1 Desember 2019: Ajakan Berjaga-Berjaga


                      Kita diajak untuk berjaga-jaga menunggu. Menunggu siapa? Menunggu kedatangan “Anak Manusia” yang akan datang pada waktu yang tidak terduga. Mengenai kapan waktunya kita tidak tahu. Yang jelas kita diajak untuk berjaga-jaga menunggu kedatanganNya. Kita diajak untuk mengenali penyelamatan yang sudah datang. (Mat. 24:37-44). Siapa Anak Manusia itu? Bagaimana kita membangun sikap berjaga-jaga itu?

                      Dalam Kitab Daniel 7:13 Anak Manusia disebut. Anak Manusia datang menghadap Yang Maha Kuasa. Tujuannya adalah untuk mendapatkan anugerah atas seluruh alam semesta. Anak Manusia baru tampil setelah kekuatan-kekuatan jahat yang melingkupi alam semesta punah.  Siapa Anak Manusia itu? Anak Manusia ini adalah kemanusiaan baru yang hadir di hadirat Allah dan bebas dari pengaruh jahat.

Jika Anak Manusia diterapkan pada Yesus, maka Ia datang dengan kuasa dari Allah sendiri. Orang bisa peduli. Orang bisa tidak peduli. Orang yang menyepelekannya akan kehilangan kesempatan. Maka dalam masa adven ini kita diajak untuk berusaha menyadari bahwa Yang Maha Kuasa hadir meski tidak selalu jelas. Kehadirannya bukan jauh, tetapi bergerak mendekat. Warga masyarakat juga diajak untuk mengenali kemanusiaan baru itu. Kedatangan kemanusiaan baru itu mewujud dalam gambaran mengenai kedatangan Kerajaan Allah.

Kapan kemanusiaan baru itu datang? Kerajaan Allah sudah ada. Tetapi tidak tahu kapan akan terwujud secara utuh. Artinya, Kerajaan Allah tidak mengikuti hukum alam dan kaidah-kaidah perkembangan masyarakat sebagaimana biasa terjadi. Misalnya, hukum sebab akibat. Ini tidak berlaku bagi Kerajaan Allah.  Tidak ada yang tahu, bahkan Yesus sendiri tidak mengetahuinya. Yang mengetahui hanyalah Bapa sendiri. Menarik disebut ungkapan Bapa di sini. Tujuannya adalah supaya kita punya hubungan dekat dengan kerahiman Allah dan belas kasihNya.

Mengenai kedatangan Anak Manusia yang tidak terduga-duga itu kita bisa belajar pada pengalaman sebelumnya yaitu zaman Nuh. Nuh dikasihi Allah dan Nuh berusaha membalasnya dengan menurutinya. Atas suruhanNya ia membangun Bahtera, kawasan khusus yang terlindung dari kekuatan-kekuatan penghancur yang akan segera datang. Dan jalan terbaik untuk selamat ialah membiarkan diri dibimbing Allah sendiri. Jalan paling mudah menjauhkan diri ialah menganggap sepi kasih Allah itu dan sibuk dengan urusan sendiri.

Orang-orang pada zaman Nuh merasa sudah aman. Tak butuh apa-apa lagi. Mereka melihat yang dikerjakan Nuh, tetapi tidak peduli dan malah menganggapnya mengerjakan yang aneh-aneh saja! Kan tak akan terjadi apa-apa yang luar biasa! Semua bisa diperhitungkan, pikir orang-orang itu. Gerak gerik Yang Ilahi yang tak dapat seluruhnya diperhitungkan. Ia tetap ada dalam wilayah yang keramat yang tak tunduk pada hukum-hukum di dunia ini.

Bagaimana membangun sikap berjaga-jaga itu? Pertama, kita dinasihati agar peduli, hormat, berjaga-jaga akan gerak-gerik Yang Keramat yang tak terduga-duga, dan jangan sekali-kali menyepelekannya atau menganggap semua sudah beres.

Kedua,sebagaimana ajakan Paulus kepada umat di Roma kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan, dan mengenakan perlengkapan senjata terang. Kita diajak untuk mengenakan Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang.

Mulai hari ini, kita memasuki masa adven, masa menunggu. Bagaimana sikap itu bisa diwujudkan secara pribadi? Dalam keluarga? Di Lingkungan? Wilayah? Masyarakat? Penting dicatat disini perlunya sikap peduli, hormat, dan sadar.

Singkatnya, kita diajak untuk menjadi sadar akan gerak-gerik Yang Ilahi dan Yang Keramat. Itu ada dalam hidup sehari-hari. Hiduplah pada saat ini dan di sini. Keselamatan sudah datang.

Tuhan Yesus, semoga kami dapat menjadi semakin peduli, hormat dan berjaga-jaga akan kehadiran Yang Ilahi dalam hidup sehari-hari. Amin. (War, 1 Desember 2019)

 

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com