Sepangkeng Kisah Gereja Katolik Kampung Sawah (1)


Penyambutan relikwi Santo Servatius 30 September 1996 - Foto : Doc. Paroki Kampung Sawah

Pengantar

Alhamdullilah….kira-kira kata itu yang muncul melihat penerbitan buku Sepangkeng Kisah Gereja Katolik Kampung Sawah ini. Rasa syukur dan terima kasih itu lepas dan tulus, keluar secara spontan disertai tarikan nafas panjang penuh kelegaan. Maka dengan tulisan pendek ini perkenankan kami mengucapkan profisiat dan selamat kepada semua yang terlibat dalam penyusunan kisah indah penuh nuansa kemanusiaan ini.

Sebuah kisah indah, karena di dalamnya kita bisa menemukan perjuangan sebuah komunitas kecil yang perlahan tapi pasti menemukan identitas dirinya sebagai umat Katolik Kampung Sawah. Penuh nuansa kemanusiaan, karena di dalamnya kita melihat betapa perjuangan lahir dan batin itu saling melengkapi. Ada warna persaingan untuk saling menang sendiri, ada kesetiaan tulus tanpa pamrih, ada kelicikan dan keutamaan manusiawi yang dijalin erat dalam kisah indah sebuah komunitas kecil di pinggiran Batavia kala itu.

Melihat kisah yang bernuansa sejarah seperti Sepangkeng Kisah Gereja Katolik Kampung Sawah ini, kita diajak untuk berpikir tentang keterlibatan erat beberapa tokohnya dengan karya keselamatan yang datang “dari atas”. Apakah tokoh tertentu dengan segala pasang surut kemanusiaannya itu memang “dipakai” oleh Tuhan untuk mempersiapakan Gereja Kampung Sawah sebagai paguyuban umat beriman sebagaimana kita kenal dan alami sekarang ini?

Kita sendiri tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi di masa lalu. Kenyataan saat ini menunjukkan bahwa warisan itu kita terima sebagaimana adanya. Mungkin kita bisa bertanya kepada diri sendiri tentang arah sejarah itu. Kemanakah sebenarnya kita mau dibawa oleh sejarah itu? Atau mungkin lebih aktif: apakah kita bisa mengarahkan sejarah kita sendiri menuju ke tempat dan situasi yang kita kehendaki? Pertanyaan spekulatif kayak gini sepertinya punya banyak jawaban spekulatif juga, tergantung dari cara pandang dan cara hidup kita. Tergantung dari cara kita bertindak.

Kalau kita bisa belajar dari sejarah, mungkin kita bisa mengubah alur sejarah itu sesuai dengan keinginan kita. Maka dikatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai sejarahnya sendiri. Lantas apa yang bisa kita pelajari dan kita hargai dari sepangkeng kisah ini agar kita bisa membelokkan sejarah sesuai dengan keinginan kita? Untuk itu kami mengusulkan dua prinsip dasar. Pertama adalah unsur yang mengikat kebersamaan kita dari dulu sampai kini, benang merah yang menjadi warna dasar paguyuban kita. Dalam hal ini saya menunjuk nuansa atau budaya Betawi sebagai prinsip dasar. Sampai saat ini tampaknya di seluruh Keuskupan Agung Jakarta hanya Kampung Sawah yang memunyai warna Betawi sebagai ciri paguyuban umat beriman alias hidup menggerejanya. Betawi adalah darah daging, tumpah darah, bumi pertiwi. Prinsip dasar yang kedua adalah perjalanan sejarah itu sendiri. Sejak dulu sampai kini, sebagai umat Katolik, Kampung Sawah berkiblat ke gereja induk Katedral di Batavia dulu, Jakarta kini. Akar kekatolikan itu sendiri tak pernah tercabut dan hilang, ranting itu tak pernah patah dan terbuang. Apa yang terjadi di Batavia selalu punya dampak di Kampung Sawah. Dengan nuansa betawi kita melaksanakan apa yang menjadi garis kebijakan di pusat.

Lihatlah pasang surut perjalanan umat Katolik Kampung Sawah sepanjang sejarahnya. Sejak dibaptisnya 18 orang Kampung Sawah tanggal 06 Oktober 1896 sampai 06 Oktober 2011 ada saja kesalinghubungan antara Batavia dan Kampung Sawah. Ada masa ketika umat Katolik di Kampung Sawah seakan tenggelam ditelan bumi...tinggal Roh Kudus yang melayang-layang di atas bumi Kampung Sawah. Ada masa ketika umat berkembang pesat dan gereja kekurangan tempat...tinggal Roh Kudus yang menaungi harapan umat akan tumbuhnya gereja baru. Kita sedang membentuk sejarah baru di Paroki Kampung Sawah.

Sudah 115 tahun umat Katolik Kampung Sawah hidup menggereja dibimbing Roh Kudus dengan berbagai variasi jalan dan nuansa kehadiranNya. Saat-saat ini kita sedang mempersiapkan cabang sejarah baru dengan usaha mendirikan gereja baru. Untuk pertamakalinya kita mempersiapkan diri dan usaha untuk punya anak gereja baru. Bayangkan...setelah 115 tahun!!!

Apakah mungkin kita membentuk dan mengarahkan sejarah kita sendiri? Tergantung dari cara kita bertindak. Kalau seluruh umat Katolik Kampung Sawah menyatukan perhatian dan usahanya pada terlaksananya pembangunan gereja baru, maka kita sedang merintis arah sejarah kita sendiri. Kita semua yakin, dengan adanya gereja baru nanti, maka cara berpikir dan bertindak baru juga akan menyusul. Kebaharuan itu tercermin dari apa yang disebut Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta dengan segala penjabarannya. Lihatlah dalam “Sepangkeng...”, bab terakhir berbunyi: ”Ini zaman ArDas..bung”. Kita memang sedang membentuk dan mengarahkan sejarah kita sendiri. Nantinya bukan hanya sepangkeng kisah, tapi segudang kisah anda sendiri di Kampung Sawah. Selamat Ulang Tahun yang ke 115.

Tuhan memberkati,

Rm. Yakobus Rudiyanto SJ

 

Sepangkeng Kisah Umat Katolik Kampung Sawah

Diceritakan kembali oleh :  Aloisius Eko Praptanto

Editor :

  • JFX Harbelubun
  • Yulius Sastra Noron
  • Rm. Yakobus Rudiyanto SJ
  • Barnabas Eddy Pepe
  • Ludovicus Gunarso

Tim sejarah gereja :

  • Josef Sulistiantoro
  • Barnabas Eddy Pepe
  • Maria G. Andinaratri
  • Vincentia Endang P
  • A.F. Sri Sumanti
  • Sisil Juih, Chatarina T.Wulan
  • Maria Rosa A
  • M. Sriningsih
  • Yohanes Paat, Christine
  • Welly, Laurentia Yoanne
  • Ursula Dwi Yanti
  • Yustus Saleh Samat.

Pembuat pantun : Alex Itjang, dkk.

Desainer : @galanggasi

Foto-foto kaver : Dokumentasi Paroki Santo Servatius

Penerbit : Seksi Komunikasi Sosial Paroki Santo Servatius.

Alamat penerbit : Jalan Raya Kampung Sawah RT006/04, No 75, Kelurahan Jati Melati, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi.

Percetakan : Giga Karya Gemilang

Copyright©2011 Hak cipta dilindungi oleh undang-undang Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun seperti cetakan, fotokopi, microfilm, VCD, CD-ROM, dan rekaman suara, tanpa izin tertulis dari pemegang hak cipta/Penerbit

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :