[Renungan 15 Januari 2015] Yesus Muak


Ibr 3:7-14; Mzm 95; Mrk 1:40-45

Yesus “tergeraklah hati-Nya (Yun. splagxnízomai) oleh belas kasihan” saat seorang kusta datang dan berlutut di hadapan-Nya. Beberapa naskah kuno memakai ungkapanorgízo¯, berarti ‘menjadi marah’, dan bukansplagxnízomai, yang lebih halus. Dari sini, mungkin terjemahan yang paling pas adalah ‘muak’, gabungan ‘perasaan yang menyentuh bagian dalam tubuh (splagxnízomai)’ dan ‘marah (orgízo¯)’.

Yesus muak bukan karena orang kusta yang datang kepada-Nya. Buktinya, dengan belas kasih, Ia menerabas aturan, menjamah orang itu, dan menyembuhkan. Yesus muak terhadap sistem sosial dan moral yang ada. Zaman itu, orang kusta membutuhkan dua hal; penyembuhan dan pernyataan ketahiran dari imam (Im 14:2- 32), yang harus di sertai dengan upacara kurban. Kala itu, banyak imam lebih suka berada di Yerusalem. Aneka upacara besar di Bait Allah, lebih memberi job, stipendium besar, dan gengsi.

Yesus muak, karena sistem yang mementingkan formalitas itu telah menghancurkan sensitivitas untuk menolong. Zaman itu, penyakit kusta dianggap penyakit yang tak tersembuhkan. Hanya kuasa Allah yang bisa menyembuhkan. Menyembuhkan orang kusta dinilai ‘sederajat’ dengan membangkitkan orang mati dan itu tak mungkin dilakukan manusia! Konteks inilah yang memberi makna dari keberanian si kusta datang kepada Yesus. Ia mengimani, Yesus ada lah Allah Sumber Kehidupan. Bagi Yesus, pernyataan ini terlalu dini. Maka, Ia memberi peringatan keras, jangan katakan apapun kepada siapapun! (RBP/hidupkatolik.com)

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :