[Renungan 3 Mei 2015] Kasih dalam Kata dan Aksi


Kasih dan mengasihi adalah jati diri kita sebagai pengikut Kristus. Tuhan Yesus sendiri menegaskan kebenaran ini. “Kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh 13:35). Dengan kutipan itu, jelas bahwa bila kita saling mendendam dan saling membenci, saling berkelahi dan saling bertengkar, kita bukanlah murid dan pengikut Kristus tetapi murid Beelzebul atau penghulu setan. “Tetapi ada di antara mereka yang berkata: Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan” (Luk 11:15). Apakah kita mau disebut murid dan pengikut setan? Sudah pasti, kita tidak mau.

Sebagai manusia sehat dan normal, pasti kita lebih memilih menjadi murid Kristus dan pengikut-Nya daripada memilih menjadi murid setan. Oleh sebab itu, “Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1Yoh 3:18). Rasul Yohanes di sini menekankan aksi atau perbuatan sebagai bentuk pertama dari perintah kasih. Tentu itu tidak berarti perkataan atau lidah kita tidak lagi mesti mengandung atau memuat kasih.

Perbuatan dan perkataan tidak mungkin berdiri sendiri-sendiri atau terpisah satu dari yang lain. Kita tidak mungkin dapat berbuat kasih, bila kata-kata kita penuh dengan dendam dan benci, emosi dan amarah, cercaan dan penghinaan. Perbuatan pada umumnya bermula dari perkataan. Maka jelas ada perbuatan kasih apabila ada perkataan kasih yang lahir dari hati yang penuh kasih. Sebab itu, hendaklah dari diri kita tidak ada kata-kata dendam dan benci, kata-kata keras dan kasar, kata-kata olokan dan hinaan, kata- kata cercaan dan makian. Kalau kata-kata demikian keluar dari mulut orang lain, sudahlah dan terserahlah orang itu! Namun, kata-kata demikian tidak boleh mulai dari diri kita. Kalau kata-kata demikian sudah keluar dari mulut orang lain dan diarahkan kepada kita, janganlah kita membalasnya. Bila kita mau membalas, balaslah dengan kata-kata kasih. Kata- kata kasar, dendam, dan benci tidak boleh dibalas dengan kata-kata kasar, dendam dan benci. Sebaliknya, kata-kata kasar, dendam, dan benci haruslah dibalas dengan kata-kata kasih, kata-kata yang menebarkan kelemah-lembutan dan keramah- tamahan, kesabaran, dan kerendahan hati.

Kata-kata kasih yang keluar dari hati pasti akan lahir dalam perbuatan kasih. Perbuatan kasih itu bisa diwujudkan melalui perbuatan-perbuatan baik, seperti membantu sesama yang amat kesulitan, mengunjungi orang-orang sakit, para jompo, anak-anak yatim piatu, para tawanan dan tahanan di penjara, menolong para perantau, pengungsi dan imigran, menghibur orang-orang yang berduka, dan lain-lain. Perbuatan baik apapun jenisnya pasti keluar dari hati dan mulut yang penuh dengan kasih. Adalah tidak mungkin kita berbuat baik terhadap sesama bila hati dan mulut kita diliputi oleh dendam dan benci, cercaan dan hinaan, emosi dan amarah. Dengan ini, dalam hidup kita, sungguh pentinglah suatu keserasian atau kesejalanan kasih dalam hati dan dalam kata, dalam aksi atau perbuatan.

Bagi pengikut Kristus, keserasian kasih dalam hati dan kata, dalam aksi atau perbuatan merupakan kebenaran yang harus diwartakan kepada dunia dan sesama. Inilah inti ajakan Rasul Yohanes seperti dalam bacaan kedua Minggu ini, ketika ia berkata: “Marilah kita mengasihi ... dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1Yoh 3:18). Mengasihi dalam kebenaran berarti mengasihi dengan jujur, tulus, dan apa adanya. Kasih tidak boleh pura-pura dan tidak boleh direkayasa. Kasih yang pura-pura atau kasih yang direkayasa bukan lagi kasih, tetapi penipuan. Dan setiap penipuan atau rekayasa sudah pasti tidak akan mendatangkan keselamatan, kebaikan, keamanan dan ketenteraman. Itulah sebabnya harus ada kebenaran dalam kasih dan aksi mengasihi sesama di dunia ini. (RBP/hidupkatolik.com) 

 

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :