Rekoleksi Sehari “Bersyukur dan Berbuat”


Rekoleksi Sehari “Bersyukur dan Berbuat” - Foto : Istimewa

Maria yang bersimpuh dan menyimak dengan sepenuh hati kata-kata sang Guru adalah gambaran orang yang melayani Tuhan; sebaliknya, Marta yang sangat sibuk melayani Yesus adalah gambaran orang yang justru hanya melayani pekerjaan Tuhan. Pelayanan Maria berpusat pada hubungan mesra sang Khalik dan dan sang Insan; sebaliknya, pelayanan Marta berpusar di sekitar tumpukan kerja pelayanan. Setiap puji-sanjung dan koreksi-kritik terhadap pelayanan Marta, umumnya, sangat berpengaruh terhadap naik-turunnya gairah pelayanan. Pada pelayanan Maria, gairah pelayanan tak terpadamkan, tak lekang diterpa situasi dan kondisi.

Jabaran di atas merupakan salah satu butir paparan Bapak Stefanus Chik Tjai yang disampaikan dalam Rekoleksi Sehari stasi St. Stanislaus Kostka pada hari Minggu, 3 Mei 2015, di lahan gereja Kalamiring, Kranggan – Bekasi. Bapak Stefanus adalah narasumber pertama dari 4 narasumber yang didapuk berbicara dalam acara yang mengusung tema Bersyukur dan Berbuat itu. Di sessi kedua, Romo Franz Magnis Suseno SJ bertutur tentang eksistensi kita yang Katolik di tengah masyarakat yang non-Katolik. Secara khusus beliau menggambarkan bahwa, khususnya di level nasional, ada cukup banyak kemajuan dalam dukungan kelompok Islam mainstream (NU, Muhammadiyah) terhadap eksistensi umat Katolik; namun, beliau juga mengakui di tingkat lokal/regional bisa saja hal ini kurang atau belum berlangsung. Beliau mengajak agar kita tetap sabar dan tetap mau memegang komitmen menjadi saksi Kabar Baik dalam masyarakat dengan memancarkan kebaikan baik lewat tutur kata maupun tindak tanduk sambil di saat yang sama berusaha menangkap dan menghargai percik-percik kebaikan pada umat non-Katolik di sekitar kita.

Selanjutnya, menjelang makan siang, RD Yustinus Ardianto menganjurkan agar kegiatan pastoral diawali dengan mempelajari dan memahami realita yang melingkupi umat paroki, baik berupa trends umat Katolik di dunia dan trends masyarakat lokal tempat umat Katolik berada. Pemahaman yang baik akan melahirkan rencana program yang tepat ‘menjawab’ realita tersebut. Tentang pelaksanaan karya pastoral, Romo menekankan pemanfaatan maksimal kreativitas dalam memilih metode-multi channels sehingga karya pastoral menjadi produktif, sambil tidak lupa memantau, mengevaluasi serta, bila perlu, mengoreksi program yang berjalan. Setelah makan siang, 150-an peserta rekoleksi disuguhi gambaran paroki yang ideal oleh Romo Agustinus Purwantoro SJ. ‘Sosok’ paroki ideal digambarkan berpedoman pada inspirasi alkitabiah dan ‘guidelines’ dari keuskupan. Roh paroki ideal sangat bertumpu pada pengalaman jemaat pertama yang banyak tertuang dalam Kisah Para Rasul sementara sisi administrasi, pengelolaan, dan pemeliharaan, dituntun dalam koridor peraturan dan ketetapan keuskupan. Memanfaatkan momentum yang sudah terbangun sejalan bergulirnya rekoleksi, peserta koleksi diajak berdiskusi. Peserta yang merupakan anggota pengurus 15 lingkungan dan kelompok kategorial dalam stasi diminta membicarakan langkah apa yang sebaiknya diambil dalam jangka pendek pasca diperolehnya IMB yang sudah incrach, sehingga lahirnya paroki St. Stanislaus Kostka makin cepat mewujud.

Hasil diskusi kemudian dituangkan dalam bentuk doa permohonan yang diunjukkan dalam misa yang menutup keseluruhan acara yang juga merupakan misa perdana di lokasi lahan gereja. Sampai saat para peserta pulang sesudah misa penutup, tidak seorang pun merasa terganggu dengan kenyataan bahwa seluruh acara hari itu berlangsung di dalam bakal gedung gereja yang bodong dan separoh jadi. Ketika hujan menyapa di pertengahan rekoleksi, hampir tidak ada gangguan terasa. Bahkan tidak ada rasa khawatir membayangi padahal sampai beberapa bulan lalu ancaman dan demonstrasi masih menjadi cerita dan warna lahan gereja ini. Agaknya kerinduan dan hasrat memiliki gedung gereja dan paroki sendiri demikian besar sehingga tidak ada satu rintangan yang cukup berarti yang dapat mengganggu apalagi menghentikan langkah yang mengarah ke sana.

Albertus Sudibyo

Umat Lingkungan Bernardino Realino

 

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :