Renungan 1 Januari 2017


Banyak hal yang tidak mampu dipahami oleh Bunda Maria dalam hidupnya. Salah satunya, seperti yang dikisahkan dalam Injil hari ini. Para gembala berdatangan untuk melihat bayi Yesus yang oleh para malaikat dikatakan sebagai Juruselamat dunia yang telah dijanjikan oleh Allah. Betapa Maria tidak heran, bagaimana mungkin Sang Juruselamat dunia lahir di dalam kandang hewan dan dari rahim seorang wanita lugu nan miskin seperti dirinya? Lalu di kemudian hari, Maria juga kembali dibuat masygul ketika berusaha memahami jalan pikiran Allah manakala Allah meminta kembali "Anak" yang telah dianugerahkan-Nya kepada dirinya lewat suatu cara yang tragis: wafat di kayu salib!

Berhadapan dengan pengalaman tersebut, Maria menunjukkan sikap yang bijaksana. Ia lebih memilih untuk "menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya" (Luk 2:19). Ia tidak mau berlarut-larut terjebak dalam seribu satu pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Ia tidak ingin memberontak walau kebingungan memenuhi pikirannya. Ia memilih untuk menyimpan segala kegundahan di dalam hatinya dan merenungkannya. Dengan kata lain, ia berusaha untuk mencari dan menemukan kehendak Allah yang sejati dalam setiap peristiwa.

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu" (Luk 1:38). Inilah sikap dasar Maria dalam keseluruhan hidupnya. Sikap ini pula yang menjadi kerangka dasar pencariannya akan kehendak Allah. Ia berani mempersilahkan Allah untuk menjalankan kehendak-Nya dalam hidupnya, karena ia yakin bahwa segala hal yang terjadi dalam hidupnya adalah karya Allah semata. Allah itu baik dan selamanya akan selalu baik (bdk. Luk 1:54-55). Dengan demikian, ada tiga urutan sikap yang dipilih Maria dalam menghadapi setiap peristiwa. Pertama, percaya bahwa Allah itu baik dan selamanya akan selalu baik. Kedua, menerima segala peristiwa karena segala peristiwa terjadi berdasarkan kehendak baik Allah. Ketiga, mencari kehendak Allah yang tersembunyi dalam setiap peristiwa.

Percaya, menerima dan mencari adalah sikap yang sangat tepat bagi kita dalam menjalani tahun 2017. Banyak orang merasa optimis memandang tahun 2017. Namun tidak sedikit pula yang merasa pesimis karena pengalaman-pengalaman kelam tahun sebelumnya. Kita yakin bahwa di tahun yang baru ini kita pasti akan mengalami banyak peristiwa, baik yang manis maupun yang getir. Sebagai orang beriman, hendaknya kita meneladani Maria dalam menghadapi tahun yang baru ini. Mari kita hadapi tahun yang baru dengan sikap percaya bahwa Allah itu baik dan selamanya akan selalu baik. Kemudian menerima segala peristiwa karena segala peristiwa terjadi berdasarkan kehendak baik Allah. Akhirnya, mencari kehendak Allah yang tersembunyi dalam setiap peristiwa.

Dengan bersikap demikian, semoga kita bisa menjalani tahun baru 2017 ini dengan penuh optimisme dan sukacita. (RBP/renunganpagi.blogspot.co.id) 

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :