Renungan Sabtu 25 Maret 2017


                                               Hari Raya Kabar Sukacita

         Pekan III Prapaskah Yes 7:10-14; 8:10 ; Mzm 40:7-8a.8b-9.10.11; Luk 1:26-38

Bagaimanakah Daud menghadapi realita seperti ini? Apakah yang dapat kita pelajari darinya? Ia menggeser alunan nada-nada riang menjadi nyanyian yang pilu, namun tidak mengubah isi keyakinannya kepada Allah. Walaupun ia telah menggeser nyanyian syukur dan komitmennya menjadi ratapan pilu karena malapetaka, kesalahan dan musuh-musuhnya, namun ia tetap menyanyikan kesetiaan, keselamatan, kasih, dan kebenaran Tuhan, baik dengan nada riang maupun pilu Ia tidak mengubah kesaksiannya tentang Tuhan baik dalam syukurnya: “Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau”, maupun dalam ratapnya: “Tuhan itu besar! Hasratnya kepada Tuhan terus bertumbuh semakin kuat melalui pasang surut kehidupan. Hasratnya kepada Tuhan terus berdengung semakin kuat dalam tema-tema nyanyian “Aku sangat menanti-nantikan Tuhan”, ratapan “Tuhan segeralah menolong aku!” dan permohonannya “Ya Allahku, janganlah berlambat”. Di manakah Daud menemukan kekuatannya? Sumber kekuatan Daud tidak lain terletak pada keyakinannya yang mempercayai bahwa sekalipun keadaan di sekitarnya berubah namun perhatian , kesetiaan, keselamatan, kasih, kebenaran, dan rakhmat Tuhan yang sedemikian besar terhadap dirinya tidak pernah berubah, baik pada waktu senang ataupun susah 

Persembahan lahiriah bagi Tuhan itu baik. Tapi, Tuhan lebih berkenan kepada kurban rohani, yaitu persembahan hati yang remuk redam. Sikap penyerahan diri kepada kehendak Allah menjadi persembahan yang sangat berharga. Disposisi batin mengarahkan sikap bakti kepada Allah. Itulah sikap tobat untuk membarui diri terus-menerus

Tidak perlu menjadi orang pintar untuk mengetahui bahwa manusia lebih tinggi dan mulia daripada binatang. Oleh karena itu, tidak masuk di akal jika darah binatang yang dikurbankan bisa menghapus dosa manusia Logika kita mengatakan bahwa paling sedikit ada dua hal yang salah. Yaitu, yang lebih rendah tidak dapat menggantikan yang lebih tinggi dan tidak adil jika binatang yang harus menanggung kesalahan manusia.

Walaupun demikian, itulah cara Allah menyatakan kehendak-Nya pada masa Perjanjian Lama. Kurban yang tidak sempurna itu dipakai Allah untuk pengampunan dosa. Bukan kurbannya yang terpenting melainkan kepercayaan dan ketaatan kepada kehendak-Nya Allah sendiri yang menyediakan kurban sempurna yang membereskan masalah dosa, yaitu Kristus. Kristus dengan ketaatan penuh mengerjakan kehendak Bapa. Oleh sebab itu, sesuai dengan kehendak Bapa, setiap orang yang percaya kepada-Nya telah mendapatkan keselamatan satu kali yang berlaku untuk selama-lamanya

Salah satu alasan Allah mengizinkan kurban yang tidak sempurna dipakai sebagai sarana pengampunan dosa, agar umat-Nya menyadari keseriusan dosa dan tidak “bermain-main” dengannya. Kesadaran ini membuat mereka berharap pada kasih dan kesetiaan Allah, bukan pada usaha menerapkan peraturan kurban secara teliti dan akurat. Tanpa iman, ritual masa Perjanjian Lama tidak berarti.

Anugerah keselamatan yang dicurahkan Allah kepada orang percaya adalah suatu misteri. Kita tidak dapat menyelami kedalaman hikmat-Nya, yakni bagaimana hanya dengan percaya kepada Kristus, dosa-dosa kita dapat diampuni. Namun, kita dituntut untuk percaya sepenuhnya kepada rancangan Allah. Bukan peraturan kurban yang dituntut Allah melainkan memiliki iman kepada-Nya!

begitu banyak hal-hal yang besar. Pertama, bertemu dengan malaikat Gabriel bukanlah kejadian yang biasa dialami seorang Yahudi, apalagi seorang wanita. Kedua, mendengar berita yang disampaikan Gabriel, bahwa ia akan mengandung. Pertanyaan spontan Maria menunjukkan keterkejutannya karena dirinya dikatakan akan mengandung sebelum menikah dan hidup serumah dengan Yusuf, tunangannya Maria memikirkan akibat sosial yang akan dialaminya karena peristiwa itu. Dari sudut pandang Maria kita diajak untuk merenungkan sikap Maria dalam menghadapi rencana Allah yang begitu mengejutkan ini. Jika dibandingkan dengan kisah sebelumnya, mungkin kita bertanya: mengapa Maria tidak menerima hukuman seperti Zakharia karena mempertanyakan pemberitaan Gabriel. Jawabannya sederhana, orang lanjut usia dikaruniai anak bukanlah hal yang baru dalam sejarah bangsa Yahudi sementara kelahiran dari seorang perawan tanpa keterlibatan seorang laki-laki belum pernah terjadi. Tetapi, setelah penjelasan Gabriel, kita melihat justru tekad dan keberserahan Maria untuk menerima kehendak dan rencana Allah yang disampaikan melalui Gabriel Teladan yang kita dapatkan dari Maria adalah, kerelaannya untuk mempercayakan perjalanan hidupnya kepada rencana Allah, betapapun drastisnya rencana itu menyebabkan perubahan dalam hidupnya.

Allah menepati janji-Nya. Malaikat Gabriel diutus Allah untuk segera mewartakan kabar sukacita ini. Allah berkenan kepada hati seorang perawan yang suci, murni dan takut kepada-Nya. Allah akan membuat tanda besar yang akan mempengaruhi sejarah karya keselamatan Allah. Allah memilih Maria dan Elisabet untuk melaksanakan janji keselamatan-Nya.  ( GAB / margonolucas.wordpress.com/ )  

 

 

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :