Renungan 5 Mei 2018: Roti Hidup


"Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah dagingKu, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan dagingNya kepada kita untuk dimakan." Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darahNya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab dagingKu adalah benar-benar makanan dan darahKu adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya."  (Yoh 6:48-58)

Kita masih ingat akan beberapa peristiwa yang menyedihkan. Salah satunya yang di alami oleh penduduk Ethiopia, beberapa tahun yang lalu. Mereka mengalami penderitaan karena kelaparan. Badan mereka menjadi kurus dan kekurangan gizi, yang berakhir dengan kematian. Selain itu, baru-baru ini kita juga di kejutkan dgn kasus kurang gizi utk anak-anak di Asmat, dan bahkan banyak yang meninggal dunia karena sakit dan kurang gizi. 

Fenomena ini, seperti gunung es, yang sesungguhnya banyak di alami oleh bangsa-bangsa di dunia ini. Anak-anak yang "stunting" tumbuh pendek karena kekurangan gizi yang akan menjadi beban negara dan masyarakat pada generasi berikutnya, karena mereka akan tumbuh sebagai pribadi yang lamban dalam pola berpikir nya. 
Persaingan hidup di masa depan akan menyingkirkan mereka dari dunia kompetisi. Ini menjadi keprihatinan utama kita. 

Yesus hadir memberikan sebuah jawaban mendasar akan hidup, yaitu roti hidup. Tanpa makanan kita tidak bisa hidup.  Kalau kita makan, maka makanan tersebut akan di olah menjadi nutrisi yang akan mengisi sel-2 tubuh kita, mulai dari otot, tulang dan bahkan darah. Konon tubuh kita mengalami kerusakan setiap hari -+780.000,- sel, dan akan digantikan oleh sel yang baru, yang bersumber dari protein. Tanpa unsur ini sel tubuh kita akan mati dan akan berdampak pada seluruh tubuh kita, yang akan menjadi rusak, dan akhir nya menjadi mati. 

Seperti yang di katakan Yesus pada perikop di atas, nenek moyang bangsa Israel makan Manna, roti yang di berikan Tuhan dari surga,  di padang gurun, dan mereka semua telah mati. Makanan yang diberikan oleh dunia hanya terbatas utk kehidupan di dunia yang sementara sifatnya. 
Aku adalah roti hidup yang turun dari surga, kalau kamu makan roti itu, kamu tidak akan mati, melainkan memperoleh hidup yang kekal. Dan roti itu adalah tubuh Kristus sendiri. Dagingku betul-betul makanan dan darah-Ku betul-betul minuman. 

Yesus melihat makanan bukan  sekedar untuk hidup saja, lebih daripada itu untuk sebuah tujuan yang akan datang, kehidupan kekal di surga. 
Tubuh kita memiliki keterbatasan oleh karena ketidak permanen, selalu berubah,  yang pada saatnya akan meninggalkan dunia ini. Namun ada bagian tubuh kita yang tidak akan mati, yaitu jiwa kita. Allah menghendaki jiwa kita akan kembali kepada -Nya dalam kondisi yang mulia. Tanpa inisiatif Allah, manusia tidak mungkin akan hidup bersama Tuhan di Surga. Kita tak mampu menghampiri Allah dalam kemuliaan-Nya yang besar. 

Ingat peristiwa musa di Padang gurun, saat menghadap Allah Yahwe di gunung sinai, Puncak gunung sinai bagaikan nyala api yang besar, yang tidak mungkin orang bisa masuk ke dalam nya. Allah bercahaya, dan selama 40 hari Musa hidup bersama Allah di gunung sinai, dan saat turun ke kemah orang Israel wajah Musa pun tetap bercaya. 
Jiwa kita tak akan mungkin menghadap Tuhan kalau Tuhan sendiri tidak berkenan kepada jiwa kita. Oleh karena itu Yesus datang dari Surga mempersembahkan diri-Nya, utk menjadi makanan bagi tubuh kita, agar melebur, menjadi satu dengan Tubuh dan jiwa kita. 

Saat kita meninggalkan dunia ini, menghadap Tuhan, jiwa kita bercahaya karena kita memakai tubuh Kristus yang telah menjadi bersatu dgn tubuh kita. 
Percaya akan kasih Allah yang begitu besar, sehingga anak Tunggal yang di kasih-Nya,  telah menjadi anak domba Allah yang memberikan kita hidup yang kekal. 
Aku lah roti hidup yang turun dari Surga, barang siapa makan roti itu, ia tidak akan mati, melainkan memperoleh hidup yang keka. Amin

 

Arnoldus Amat

Lingkungan Theresia Andes

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :