Renungan 19 Mei 2019: Warisan Terakhir


              Orang yang mau meninggal biasanya  memberikan warisan terakhir. Bahkan ada orang yang baru meninggal setelah semua anak-anaknya kumpul. Warisan terakhir itu biasanya dipatuhi oleh anak-anaknya. Mengapa? Karena itu adalah wejangan terakhir dari orang tua. Yang disampaikan menjadi warisan terakhir sebelum meninggalkan dunia ini.   Guru terkenal mewariskan “ilmunya” kepada para muridnya.

                      Dalam Yoh. 13:31-33a.34-35 dimuat pesan-pesan terpenting Yesus kepada murid-muridnya. Bisa dikatakan, ini adalah warisan terbesar bagi mereka. Selama ini mereka telah mengikutinya, mendengarkan ajarannya, menyaksikan tindakan-tindakannya bagi mereka yang membutuhkan pertolongannya. Kapan pesan-pesan terakhir itu disampaikan oleh Yesus?

Dalam perjamuan terakhir Yesus mengatakan bahwa salah satu dari mereka akan menyerahkannya. Hubungan guru dan murid terganggu dengan kehadiran kekuatan kegelapan. Para murid bingung siapa yang dimaksudkan. Yesus menjawab bahwa dia yang akan diberinya roti sesudah dicelupkannya. Kemudian ia memberikan roti itu kepada Yudas Iskariot. Tapi juga dikatakan dalam Injil Yohanes bahwa sesudah itu Yudas kerasukan Iblis (Yoh 13:27). Bagi Yohanes, Yesus sadar betul akan hal ini. Yesus berkata kepada Yudas agar ia segera pergi melakukan apa yang hendak diperbuatnya. Dan Yudas pun keluar. Murid-murid tidak menangkap arti kejadian itu. Mereka mengira Yesus menyuruh Yudas, pemegang kas mereka, untuk pergi membeli sesuatu.

                      Sesudah Yudas Iskariot pergi, barulah Yesus memberikan warisan terakhirnya. Dia memberikan pesan-pesan terakhirnya. Pesan-pesan terakhir itu disampaikan kepada para murid yang tidak dipengaruhi oleh kekuatan kegelapan. Hubungan guru dan murid dalam Injil Yohanes ini ditekankan. Hubungan itu menyiratkan makna khusus.

Apa isi warisan terakhir Yesus? Isinya adalah supaya para murid saling mengasihi. Dikatakan saling mengasihi,sama seperti Yesus mengasihi para murid. “Sama seperti” lebih menunjuk kepada “karena Yesus sudah mengasihi para murid”. Dengan ungkapan karena Yesus sudah mengasihi para murid, jelaslah bahwa para murid sudah dikasih lebih dulu dikasihi. Yesus Sang Guru sudah mengantar para murid untuk mengenal Tuhan sebagai Bapa. Dia juga mengajar bagaimana hidup di tengah-tengah kekuatan-kekuatan gelap dengan saling mengasihi. Kekuatan gelap apa yang paling menakutkan? Bukan kekuatan pemeras atau penindas.  Kekuatan yang paling menakutkan adalah kecenderungan dalam diri manusia untuk meniadakan kemanusiaan. Dengan saling mengasihi justru kemanusiaan itu muncul dan berkembang.

Apa arti saling mengasihi di sini? Saling mengasihi ini mengacu kepada sepenanggungan, solidaritas. Sepenanggungan saling menanggung penderitaan. Di sinilah ada rasa percaya satu dengan yang lain. Kepercayaan muncul karena ada sepenanggungan. Kalau ada rasa percaya, maka kesulitan-kesulitan dan tantangan-tantangan bisa ditanggung bersama. Senasib dan sepenanggungan ini perlu semakin diperdalam dalam kehidupan kita.

Kita bisa bertanya: apakah sepenanggungan, solidaritas ini dikembangkan dan diperdalam dalam keluarga-keluarga kita? Sering ini kurang dikembangkan, sehingga rasa percaya satu dengan yang lain hilang. Kalau ini terjadi, maka mulai ada benih-benih kekuatan gelap dan kehancuran.

Oleh karena itu marilah kita mengembangkan dan memperdalam sepenanggungan, senasib dan solidaritas dalam kehidupan kita sehari-hari baik dalam keluarga dan lingkungan kita. Itulah kekuatan-kekuatan kasih yang akan mengusir kekuatan-kekuatan gelap kita.

Tuhan Yesus, semoga kami dapat semakin mengembangkan rasa solider, sepenanggungan dan senasib dalam hidup kami sehari-hari. Amin. (war, 19 mei )

 

 

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com