Renungan 30 Juni 2019: Ikut Mewartakan Kerajaan Allah


                 Ikut mewartakan Kerajaan Allah berarti mulai belajar menngenal kerahiman Allah dari dalam. Kita juga bisa mulai belajar mengenal Allah yang maha rahim dari kenyataan harian. Mengikuti langkah demi langkah dari utusan Allah yaitu Yesus. Dialah yang menjadi sumbernya. Langkah pertama, misalnya, adalah menjauh dari sikap dan tindakan yang intoleran. Langkah kedua adalah mengenal, mencintai dan mengikuti Yesus secara lebih dekat. Bagaimana ini bisa direnungkan dan diresapkan dalam hidup kita?

                      Dalam Luk 9:51-62 diawali dengan kalimat "Ketika sudah hampir tiba waktunya Yesus diangkat ke surga, ia mengarahkan pandangannya untuk pergi ke Yerusalem." Dalam Injil Lukas perjalanan dari Galilea menuju ke Yerusalem melewati Samaria (Luk 9:51-19:28) mendapat perhatian istimewa dan membingkai pengajaran serta tindakan-tindakan Yesus selama perjalanan itu.

Apa arti ungkapan “mengarahkan pandangan" di sini? Ini berarti ”berkeputusan/bertekad". Yesus bertekad pergi ke Yerusalem. Dalam Luk 9:51 kota itu dieja sebagai "Ierousaleem". Ini cara Lukas membicarakan kota itu dalam hubungan dengan mereka yang menolak kedatangan Yesus. Bila ditulis sebagai "Hierosolyma", kota itu tampil sebagai tempat yang bersedia menerimanya. Pada awal perjalanan ini kota itu disebut "Ierousaleem", tapi nanti menjelang akhir perjalanan, Luk 19:28, kota itu ditulis sebagai "Hierosolyma". Di sana Yesus menjumpai ke dua sisi kota itu. Para pemimpin menolaknya, tetapi di kota itu pula nanti ia diterima sepenuhnya oleh Bapanya.

Di sini ada dua sisi Yerusalem. Ada sisi yang menolak, dan sisi yang menerima. Kita bisa memberi makna pada perjalanan dan pengajaran Yesus dalam gagasan tertentu. Itulah gagasan "menuju ke tempat ia ditolak orang-orangnya, tetapi diluhurkan Bapanya" itu sebagai makna dasar dari tiap kejadian dan pengajaran yang disampaikan sepanjang perjalanan tadi

Dalam pengajaran itu Yesus mengikutsertakan para murid. Mereka mendahului perjalanan dan mewartakan. Di Samaria mereka ditolak, tidak diterima. Yakobus dan Yohanes bersikap intoleran. Mereka minta supaya api turun dari langit. Tetapi Yesus menolak sikap intoleran mereka. Ia menegur mereka. Sikap pertama dalam ikut mewartakan Kerajaan Allah adalah menjauh dari  sikap dan tindakan yang intoleran. Bersikaplah toleran dan ramah. Jangan pernah mengutuk.

Dalam perjalanan selanjutnya Yesus memanggil orang untuk mengikuti Yesus. Ada yang mau mengikuti Yesus, tapi mau mengubur bapanya. Ini adalah kewajiban moral. Tapi kalau itu dilakukan, tidak akan pernah mengikuti Yesus. Maka tanggapan Yesus jelas, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati, tapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.”. Mengikuti Yesus haruslah sepenuh hati, sebulat tekat, tidak ragu-ragu lagi.

Saat ini kita diajak untuk ikut mewartakan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah berarti kerajaan cinta. Di mana ada cinta kasih, di situ Allah hadir. Sebarkan benih-benih cinta kasih dalam keluarga, lingkungan dan masyarakat. Kita diajak untuk bersikap dan bertindak toleran.

Tuhan Yesus, semoga kamidapat semakin ikut serta dalam mewartakan Kerajaan Allah sebagaimana telah Engkau jalankan sendiri. Amin.  (War, 30 Juni 2019)

 

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com

 :