Renungan 7 Juli 2019: Pengutusan


Gereja mendapat pengutusan dari Yesus. Pengutusan itu diberikan kepada semua saja yang mengambil bagian dalam hidup Gereja sejak zaman para rasul sampai sekarang. Tugas perutusan itu perlu dijalankan dan dilaksanakan. Apa tugas perutusan itu? Bersama semua orang yang berkemauan baik, ikut menjauhkan pengaruh-pengaruh jahat dalam pelbagai bentuknya yang terus mengancam kehidupan. Maka Kerajaan Allah yang mengasalkan Gereja itu makin tepercaya dan makin menjadi ruang hidup yang leluasa. Bagaimana ini bisa direnungkan dan diresapkan melalui bacaan Injil berikut?

                      Dalam Luk 10:1-12 dan 17-20 dikisahkan bagaimana Yesus mengutus 70 murid berdua-dua. Apa arti simbolik “70”? Angka 70 adalah kelipatan terbesar (10) dari kelompok utuh (7 ). Artinya, semua saja, siapa saja bisa menjadi murid Yesus. Jelas bahwa para murid tidak hanya yang Dua Belas Rasul, tetapi mencakup orang-orang di luar Yahudi juga. Itulah kekhasan Lukas dalam Injilnya.

Yesus mengutus 70 murid untuk mendahului. Apa yang mereka sampaikan? Yang mereka sampaikan adalah warta kedamaian. Ketika mereka sampai ke desa, sampaikan salam damai. Yang menerima akan mendapatkan damai. Kalau ditolak, salam damai itu kembali kepada para murid yang mendapat pengutusan itu.

Mereka juga diutus untuk mewartakan Kerajaan Allah sudah dekat. Apa arti Kerajaan Allah? Kerajaan Allah berarti Allahlah yang meraja. Kerajaan Cintalah yang meraja. Mereka diminta untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah membuat orang mendapatkan damai sejahtera, dijauhkan dari pengaruh-pengaruh jahat. Mereka mendapat penyertaan Yesus sendiri. Keyakinan ini mesti menjadi kekuatan mereka yang diutus. Kekuatan itu berasal dari yang memberi pengutusan.

Mereka diutus berdua-dua. Menarik bahwa mereka diutus berdua-dua. Mengapa? Kesaksian dua orang pasti berbobot daripada hanya satu orang. Lihat dalam Kisah Para Rasul. Pengutusan dilakukan berdua-dua. Misalnya, Paulus dan Barnabas, Judas dan Silas, Barnabas dan Markus.

Mereka diutus oleh Yesus seperti anak domba di tengah serigala. Apa maknanya? Jelas bahwa ada ancaman. Serigala mengancam anak domba. Tetapi jangan lupa bahwa anak-anak domba itu punya gembala. Siapa gembalanya? Gembalanya adalah Yesus sendiri. Jadi, anak-anak domba itu selalu disertai oleh Sang Gembala. Demikian orang-orang yang diutus itu disertai oleh Yesus sendiri.

Itulah sebabnya mereka diminta tidak membawa apa-apa. Mereka dibekali dengan kekuatan dari Sang Pengutus, Yesus sendiri. Justru karena tidak membawa bekal, menjadi jelas wibawa dan kekuatan yang mengutus. Dengan demikian juga menjadi keyakinan kita semua yang diutus oleh Yesus.

Bagaimana menjalankan pengutusan Yesus pada zaman sekarang? Semua saja boleh merasa mendapat pengutusan dari Yesus. Di tengah situasi kondisi yang tidak aman, kita diutus untuk mewartakan damai sejahtera. Di tengah dunia yang mudah marah dan emosional, kita diutus untuk mewujudkan kesabaran dan kemurahan. Di tengah-tengah kekerasan hidup, kita diutus untuk menjalankan tindakan-tindakan non kekerasan. Jangan kekerasan dibalas dengan kekerasan, tetapi balaslah dengan kebaikan.

Tuhan Yesus, semoga kami semakin yakin mendapatkan pengutusan dariMu dan menjalankannya dalam hidup kami sehari-hari. Amin. (War, 7 Juli 2019)

 

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com