Renungan 8 September 2019: Mengikuti Yesus


                    Mengikuti Yesus berarti ikut memanggul salib, ikut serta dalam perjalanan Yesus sendiri. Ini bisa dijalankan oleh bermacam-macam orang dan dengan bermacam-macam cara. Mengikuti Yesus dilihat sebagai keikutsertaan dalam perjalanan Yesus sendiri ke Yerusalem dengan dedikasi total.

Dengan mengikuti Yesus, orang diselamatkan. Itulah jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Itulah jalan keselamatan.

                      Dalam Luk 14:25-33 disebutkan bahwa "ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanannya" (ayat 25). Apa maksudnya? Itulah perjalanan ke Yerusalem. Yerusalem adalah tempat di mana Yesus ditolak dan disalibkan tapi akan dibangkitkan setelah wafat. Lihat kita diajak untuk mengikuti Yesus dalam perjalanan ke Yerusalem.

Selanjutnya, diuraikan bagaimana caranya orang dapat mengikuti Yesus sampai akhir. Sebelumnya diceritakan bahwa para undangan tidak mau datang ke perjamuan makan. Maka diundanglah orang-orang lain. Perikop ini menjelaskan peristiwa itu.

Persoalan baru muncul. Apakah status sebagai "orang miskin, penyandang cacat, buta, lumpuh", status sebagai "umat baru" itu jaminan menikmati kelimpahan tuan rumah tadi? Menjadi miskin adalah tiket masuk ke Kerajaan Allah? Persoalan ini menjadi masalah hangat dalam kehidupan Gereja sejak awal. Luk 14:25-33 memuat salah satu pemecahan. Ditegaskan bahwa agar benar-benar nanti dapat memasuki Kerajaan Allah orang  perlu menjadi murid Yesus.

                      Apa pengajaran Yesus mengenai menjadi murid Yesus? Mengikuti Yesus berarti mengatasi ikatan sanak keluarga dan kepentingan sendiri. Menjadi murid Yesus sama dengan menempuh hidup baru yang bisa jadi amat berlainan dengan yang biasa dijalani hingga kini.

                      Ada tiga syarat untuk menjadi murid Yesus. Pertama, syarat pertama (Luk 14:26) kedengarannya keras. Orang yang tidak "membenci" orangtua, keluarga, sanak, nyawa sendiri tak layak menjadi muridnya. Dalam bahasa Semit, ungkapan "membenci" biasa dipakai untuk menggambarkan sikap tidak memihak. Begitu pula "mengasihi" maksudnya sama dengan berpihak. Dalam mengikuti jalan menuju Kerajaan Allah orang diingatkan agar tidak lagi memihak pada ikatan-ikatan kekerabatan atau mengikuti naluri menyelamatkan diri. Mengapa? Bukan karena mengikuti Yesus itu bertolak belakang dengan ikatan-ikatan tadi, melainkan agar perkara Kerajaan Allah tidak dibataskan lagi menjadi perkara "mengurus nyawa sendiri".

Yesus bukan nabi "kehidupan sosial baru". Bukan maksudnya membangun masyarakat yang merombak pelbagai bentuk kelembagaan. Ia sekadar menggarisbawahi bahwa warta Kerajaan Allah pada dasarnya bebas dari pelbagai kelembagaan yang muncul dari hubungan keluarga atau naluri mempertahankan diri dan ikatan-ikatan primordial seperti itu. Dengan demikian warta itu bisa memberi angin baru.

Kedua, ayat 27 ialah mengangkat salib dan mengikuti Yesus. Perkataan ini janganlah kita pahami sebagai ajakan mencari-cari salib. Cara yang paling menjamin untuk menemukan salib ialah mengikuti jejak langkah Yesus meniti jalan yang sama. Salib sudah ditemukan oleh Yesus dan orang tinggal ikut memanggulnya. Ikut meringankan beban perjalanan. Itulah makna mengangkat salib dan mengikutinya. Menjadi murid berarti menjadi rekan seperjalanan.

Ketiga ayat 33 ialah melepaskan harta milik. Syarat ini disebutkan sesudah diberikan perumpamaan mengenai membuat anggaran yang cukup sebelum mulai membangun (ayat 28-30) dan memperhitungkan kekuatan sendiri masak-masak sebelum mulai berperang (31-32). Bagaimana penjelasannya? Kedua perumpamaan itu mengajarkan agar murid belajar mempertanggungjawabkan rencana yang penting dengan cara yang matang.

Kepribadian murid Yesus ialah merdeka, juga dalam hal harta milik. Dalam hubungan ini lebih jelas mengapa ada syarat agar orang melepaskan ikatan harta milik. Salah satu kekhususan Kerajaan Allah dalam perspektif Lukas ialah perhatian kepada orang yang miskin. Berarti orang yang memiliki kelebihan diajak agar menggunakan kekayaan dengan mereka membantu mereka yang kurang mempunyai. Untuk itu perlu ada sikap merdeka terhadap harta. Orang sering lebih rela berbagi kekayaan dengan sanak keluarga sendiri. Menjadi murid itu gaya hidup yang membentuk yang membentuk "umat", membentuk masyarakat yang memberi ruang hidup bagi siapa saja yang hidup di dalamnya. Bukan masyarakat yang ditokohi orang-orang yang siap saling menyingkirkan agar bisa maju.

Kita diajak untuk mengikuti Yesus. Kita diajak untuk menjadi murid Yesus pada zaman sekarang. Kita diajak untuk menyertai Yesus dalam perjalanan. Fokuslah pada Ysus yang kita ikuti. Hal-hal yang tidak mendukung dalam mengikuti Yesus disingkirkan. Juga dalam gaya hidup.

Tuhan Yesus, semoga kami dapat semakin mengikuti Yesus dalam hidup sehari-hari. Amin. (War, 8 Sep 2019)

 

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com