Renungan 22 September 2019: Berani Berubah


                Sikap berani berubah senantiasa dibutuhkan. Situasi dan kondisi selalu berubah. Zaman berubah. Begitu banyak perubahan. Keadaan hidup dihadapi. Masalah dan tantangan mendorong orang untuk berani berubah. Apa tujuan memiliki sikap berani berubah? Tujuannya adalah  mencari jalan untuk menyelamatkan hidup.  Bagaimana ini direnungkan dan diresapkan dalam hidup kita?

              Dalam Luk 16:1-13 dikisahkan perumpamaan mengenai seorang bendahara yang tidak jujur. Lalu dilanjutkan dengan pernyataan bahwa kepintaran anak-anak dunia ini melebihi anak-anak terang. Ditambahkan juga pepatah barangsiapa setia dalam perkara kecil bisa dipercaya pula dalam perkara besar. Perikop ini diakhiri dengan pernyataan: “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon.” Apa yang mau ditunjukkan di sini?

              Di sini ada ajakan untuk mencari jalan keselamatan dalam segala liku-liku kehidupan. Orang diajak untuk belajar dari orang-orang yang “tidak  baik” untuk menjadi jalan keselamatan. Perlu melihat latar belakang perumpamaan dari bendahara yang tidak jujur tadi.

Dikatakan dalam perumpamaan bahwa seorang kaya mempunyai bendahara yang diduga telah menghamburkan miliknya. Bendahara tadi kiranya pernah mengadakan jual beli minyak dan gandum dengan maksud kurang jujur. Jumlah yang disebut, 100 tempayan minyak dan 100 pikul gandum adalah jumlah yang besar, dan tetap besar setelah dipotong menjadi 50 tempayan dan 80 pikul.

Jelas pula dari jumlah yang disebutkan itu ia tidak berurusan dengan konsumen, tetapi dengan pedagang lain. Transaksi besar seperti ini di mana-mana lazimnya tidak dibayar lunas seketika. Langganan memiliki rekening pada perusahaan dagang tempat bendahara itu bekerja. Dalam hal ini bendahara tadi telah berlaku tak jujur. Yang sebetulnya 50 tempayan dicatatnya sebagai 100 tempayan, yang 80 pikul didaftarnya sebagai 100 pikul. Ia tentu berpikir akan dapat mengantongi keuntungan pembayaran nanti.

Tindakan tidak jujur bendahara itu diketahui pemilik. Lalu bendahara diminta pertanggungjawabannya. Dengan cepat bendahara itu mengubah catatan yang sesuai dengan kenyataan. Pembukuan dilakukan sesuai dengan kenyataan: 50 tempayan minyak, bukan 100 dan 80 pikul gandum, bukan 100.

Perlu dipahami, cerita itu bukan laporan peristiwa. Cerita itu juga bukan ajakan penjahat untuk bertobat. Cerita itu dipakai untuk mengajak para murid   berpikir: bagaimana menghadapi liku-liku kehidupan dengan sikap yang cocok.

Dengan cekatan bendahara itu membenahi pembukuan. Mengurangi jumlah hutang itu jelas usaha bendahara itu untuk perbaikan. Itu usaha jujur dari bendahara. "Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang." (ay. 8). Siapa tuan yang memuji itu? Tuan itu bisa menunjuk kepada pemilik kekayaan, tetapi juga kepada Yesus sendiri.

Apa yang bisa dipelajari? Kehidupan memiliki banyak segi. Situasi yang kritis kerap bisa diatasi dengan mengubah diri. Bendahara yang sedang menghadapi kendala bakal dipecat itu berhasil mengatur siasat sehingga keadaannya tidak seburuk seperti bila diam menunggu konsekuensi kelakuannya sendiri dulu. Tentu saja ia harus berhati-hati sehingga tindakannya kali ini tidak memperburuk keadaan.

Singkatnya, kita diajak untuk berani berubah dalam menghadapi berbagai tantangan dan masalah hidup. Kita juga diajak untuk belajar dari perkara-perkara duniawi. Keberanian untuk berubah harus dimulai dari diri sendiri.

Orang tua berani mengubah paradigma pendidikan anak. Setelah prihatin dengan pendidikan anak, dia mengubahnya. Orang tua mengirim anak-anak untuk mandiri.  Tidak tergantung lagi kepada orang tua. Dikembangkan pendidikan kemandirian dan tanggungjawab.

Cerita: Sufi Bayazid bercerita tenttang dirinya: waktu aku masih muda, aku ini revolusioner dan aku selalu berdoa:Tuhan, berilah aku kekuatan untuk mengubah dunia.”.  Waktu separuh baya berdoa: ...ubah semua orang yang berhubungan dengan saya. Sudah tua, betapa bodohnya: doaku saat ini: Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri. Seandainya.....

Tuhan Yesus, semoga kami semakin berani berubah dan semakin menjadi murid yang sejati. Amin.

(War, 22 Sep 2019)

 

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com