Renungan 10 November 2019: Kehidupan Sesudah Mati


Apakah ada kehidupan sesudah kematian? Kehidupan macam apa? Bagaimana dengan arwah orang yang sudah mendahului kita? Pertanyaan-pertanyaan ini mengajak kita untuk merenungkan perbincangan antara orang-orang Saduki dan Yesus mengenai kehidupan sesudah hidup di dunia ini. Perbincangan itu membantu memperdalam iman kita.

                      Siapa kelompok kaum Saduki ini? Di kalangan orang Yahudi waktu itu ada sekelompok orang yang dikenal sebagai kaum Saduki. Mereka hanya mengakui kitab-kitab Taurat. Itu terdiri dari Kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Kepercayaan yang tidak berlandaskan Taurat tidak mereka terima. Karena itu mereka juga menyangkal adanya kebangkitan. Memang kebangkitan hanya disinggung dalam Dan 12:2 dan Yes 26:19 yang tidak termasuk Taurat. Bagi orang Saduki, setelah mati orang masuk ke Syeol, ke dalam kegelapan seperti pada masa sebelum Penciptaan. Keberadaan seperti itu berlanjut terus dan tak ada banyak harapan berubah.

Ini jauh berbeda dengan pandangan kaum Farisi. Mereka menegaskan adanya kebangkitan setelah kehidupan di dunia ini. Di akhirat ada kelanjutan dari kehidupan di dunia ini lengkap dengan semua lembaganya seperti yang dapat dialami di dunia ini. Persoalan mengenai perempuan yang bersuamikan tujuh bersaudara yang mati bergiliran (Luk 20:28-33) adalah cara orang Saduki melecehkan pendapat orang Farisi.

Bila ada kehidupan kelak, maka seperti ditanyakan: siapa dari ketujuh bersaudara itu yang menjadi suami perempuan tadi? Dalam hukum Musa ada perkawinan Levirat yang menggariskan agar orang mengawini istri saudaranya yang meninggal demi menjaga kelanjutan keturunan saudaranya itu (Ul 25:5-6).

Ada pertanyaaan-pertanyaan mengusik batin, kalau terjadi sebagaimana pandangan kaum Saduki itu. Apakah perbuatan baik yang ada di dunia ini tidak ada makna setelah orang meninggal? Bagaimana dengan orang yang menderita selama hidup di dunia? Apakah masih akan tetap menderita nantinya? Di mana keadilan ilahinya?

Keberadaan sesudah hidup di dunia ini memang menjadi pemikiran banyak orang. Orang mau tahu jalan ke hidup kekal, tentunya hidup kekal yang membahagiakan. Dengan melepaskan diri dari semua miliknya, orang dapat dipenuhi karunia ilahi. Begitulah orang akan hidup bahagia di hadirat Tuhan sendiri, bukan sebatas menikmati pahala atau menghindari hukuman. Tapi juga ditegaskan, tak ada orang yang bisa mencapai kesempurnaan ini dengan kekuatan sendiri. Hanya Tuhan-lah yang bisa menjadikannya nyata baginya.

Bagaimana tanggapan Yesus? Dalam kasus perkawinan perempuan dengan tujuh suami, Yesus memberikan tanggapan. Lembaga perkawinan itu berlaku di dunia ini. Di dunia setelah kematian, lembaga perkawinan tidak berlaku. Mengapa? Karena mereka hidup seperti malaikat-malaikat dan menjadi anak-anak Allah.

Lihat misalnya dalam Kitab Keluaran 3: 16.  Di situ Tuhan mewahyukan diri kepada Musa sebagai Tuhannya Abraham, Tuhannya Ishak, dan Tuhannya Yakub. Maksudnya, leluhur Musa sudah mengenalNya sebagai Tuhan yang menyelamatkan mereka dan tetap akan menyelamatkan keturunan mereka. Ia Tuhan Pencipta, tapi juga Tuhan yang menyelamatkan. Ia Tuhan orang hidup, bukan Tuhan orang mati.

Bagaimana dengan orang-orang yang telah mendahului kita? Lihat tanggapan Yesus. Pusatkan perhatian kepada Tuhan. Tuhan itu adalah Tuhan yang menyelamatkan orang-orang yang sudah mendahului kita. Dia tetap hidup. Mereka hadir di hadirat Allah. Mereka dekat dengan Tuhan.

Tuhan Yesus, semoga kami dapat semakin mengenal, mencintai dan mengikuti-Mu. Amin. (War, 10 Nov 2019)

 

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com