Klakson Series (4) Kisah Sepatu Ibu Teresa


Oleh: Prasetyo Nurhardjanto

Choose always the more difficult task (Santa Teresa dari Kalkuta).

Kolkata, Selasa 24 September 2019

Saya tiba di Kalighat kemarin dalam kondisi setengah basah akibat diguyur hujan deras. Ketika saya mengibaskan badan di pintu masuk, seorang Suster berkata, "hi, Indonesia guy. You was help me yesterday, right? Today I asign you to take patients to hospital."Segera saya menyimpan tas dalam loker dan mengenakan celemek yang tersedia. Para pasien sudah di dalam ambulan. Ada 6 orang yang harus menjalani X-ray dan cek darah. Belum ada relawan yang membantu. Saya duduk di belakang bersama mereka.

Ambulan meraung bersaing dengan ribuan bunyi klakson membelah Kalkuta pagi kemarin. Saya di dalam terbengong sendirian,mengawal 6 pasien dengan kondisi yang menyedihkan. Luka-luka mereka yang walau sudah dibungkus masih menyisakan bau tidak sedap membuat ambulan kapasitas 1 orang ditambah saya semakin pengap.
Tiba di RS, semua harus dipindahkan ke kursi roda.tak ada yang mampu berjalan sendiri. Selain sudah lemah fisik, mereka juga lemah mental. Sehingga tidak jarang mereka berteriak marah, tanpa saya tahu maksud mereka.

Ada saja kelakuan mereka saat menunggu dokter. Ada yang pipis di celana, dan air seninya buat mainan. Celana ganti tidak ada. Saya minta tolong kepada satu staf panti, tapi ternyata juga tidak memiliki solusi.
Ketika kembali ke Kalighat, baru saja membuka pintu ambulan, suster yang tadi sudah menyambut, "You have another 4 patients to take hospital". Suster itu tersenyum. Saya juga senyum.
Hmmm, baiklah!

Kloter kedua ini khusus sakit mata. Dokternya jadwal jam 11.00 ternyata baru tiba jam 13.30. Mereka lapar, minta makan. Saya coba ijin salah satu staf panti untuk membelikan kue bolu dan teh, karena memang tidak boleh sembarangan memberikan pasien makanan. Setidaknya mengganjal nafsu kemarahan mereka. Tiba kembali di panti jam 3 sore. Padahal jam layanan saya seharusnya hanya sampai jam 12.00. Anggap saja lembur...

Para relawan shift pagi sudah pulang. Shift sore ada beberapa yang sudah muncul. Saya pulang ke hostel untuk mandi dan ganti pakaian. Pekerjaan saya hari ini bersentuhan langsung dengan para pasien. Rasanya ingin segera mandi. Entah, malaikat apa yang menemani saya sehingga saya kemarin bisa mengurus mereka ke rumah sakit  dengan tuntas.

Akibat terkena genangan hujan pagi harinya, saya baru sadar, sol sepatu saya yang kiri hampir lepas. Maka, di depan stasiun MRT menuju hostel, saya permak sepatu dulu. Enam puluh rupee menjadi harga yang kami sepakati.

Saya bersyukur diberikan kesempatan bekerja yang sulit diantara pilihan lain seperti cuci piring, cuci baju, menyiapkan makan, mengepel dll. Kalaupun tadi pagi sempat briefing dan disuruh memilih : saya akan tetap memilih mengantar mereka ke rumah sakit.

Tapi, dahulu Bunda Teresa pernah mengalami lepas sol sepatu tidak ya? Karena kan dahulu belum ada stasiun MRT. Bagi yang kecewa menanti cerita sepatu ibu Teresa seperti judul tulisan ini, saya mohon maaf. Saya juga belum dapat informasinya..

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com