Renungan 24 November 2019: Kebesaran Raja Kristus


Apa yang membuat seorang pemimpin dipandang besar? Pertama, dia punya integritas. Ini tercermin dalam kejujuran dan tindakan benarnya. Kedua, dia punya visi ke depan. Ini tercermin dalam arah yang mau dicapai dan menggerakkan orang. Ketiga, dia selalu mau belajar untuk berkembang. Dia tidak menutup diri. Ia belajar dari konteks di mana dia ada. Keempat, kepribadiannya dilihat apa adanya, terbuka, tegas, mandiri dan bertanggungjawab. Itu adalah beberapa unsur saja. Tentu masih bisa ditambahkan.  Bagaimana ini bisa direnungkan dari kebesaran Raja Kristus?

                      Hari ini Gereja merayakan Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Pertanyaannya mengapa Yesus Kristus adalah Raja Semesta Alam? Jawabannya bisa dilihat dalam surat St. Paulus kepada umat di  Kolose (Kol. 1:12-20). Kristus adalah sumber dan tujuan keselamatan. Ia berada di atas segala makhluk, karena Dia adalah pencipta dan tujuan akhir semua ciptaan.

Paulus menegaskan, “Kristus  adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,  karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.  Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia “ (Kol. 1:15-17). Jelas di sini bahwa Yesus Kristus adalah Raja Semesta Alam. Kita dimasukkan ke dalam kerajaan-Nya.

                      Dalam Luk 23:35-43 itu dikisahkan tentang Yesus. Ketika bergantung di salib, Dia diolok-olok tiga macam orang, yakni para pemimpin (ayat 35), para serdadu (ayat 36), dan bahkan oleh salah seorang penjahat yang ikut disalibkan bersama dia (ayat 39). Cemoohan itu begini. Kalau memang benar kau itu dipilih Allah jadi "Mesias", "Raja", dan "Kristus", coba selamatkan diri sendiri dulu! Jadi mereka mau bertanya apa dasar bagi klaim Yesus sebagai Yang Terurapi - Mesias dan Kristus - yang juga Raja.

Dari cemoohan itu jelas bahwa mereka tidak percaya Yesus adalah Mesias atau Raja. Mereka minta bukti untuk keselamatan bagi diri Yesus sendiri. Apa yang sudah dibuat oleh Yesus sebelumnya tidak dipercaya. Misalnya, mengusir setan, menyembuhkan orang-orang sakit, membangkitkan orang mati, mewartakan Kerajaan Allah, membebaskan orang-orang miskin dan tertindas, dan lain sebagainya. Lalu menjadi pertanyaan mengapa Yesus tetap bertahan dan kekuatanNya itu dari mana?

Yesus sadar bahwa tujuan perjalanan hidupNya ialah mencarikan keselamatan bagi orang lain, bukan bagi diri sendiri. Juga sudah terlalu banyak orang yang mengikutinya, kan tidak fair bila tinggal gelanggang. Siapa yang akan menanggung orang yang disalibkan di sampingnya yang sedemikian mempercayakan diri kepadanya itu? Tak satu domba pun akan ditinggalkan di jalan kehancuran, tak satu mata uang yang terselip pun akan dilupakan, setakpantas apapun anak yang kembali akan menggembirakan (Luk 15:1-32). Tapi siapa yang akan mengurus mereka kalau ia berhenti? Para pemangsa yang tak kelihatan sudah siap di sekitar, dan mereka semakin menjadi-jadi.

Harapan, kecemasan, dan penderitaan manusia,  itulah yang membuat Yesus maju terus. Penderitaan tidak hanya menyakitkan tapi bisa menebalkan integritas siapa saja yang menaruh diri menjadi sesama bagi yang menderita. Ingat perumpamaan tentang orang Samaria yang jadi sesama bagi orang yang malang. Jalan terus sampai akhir,  itulah mahkota menjadi sesama bagi manusia. Ia itu Raja yang tak membiarkan orang sendirian di tengah bahaya.

Jelaslah kebesaran Raja Kristus dalam paradoks. Yesus Kristus adalah Raja alam semesta, tetapi wafat di Salib. Ia adalah Allah, tetapi telah mengosongkan diri. Ia bermartabat, tetapi direndahkan. KebesaranNya terselubung, kemuliaanNya terselubung. Kemuliaan dalam diam.

Tuhan Yesus, semoga kami semakin bisa mensyukuri kebesaran Yesus Kristus, Raja Semesta Alam. Amin. (War, 24 Nov 2019)

 

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com