Klakson Series (6): Melawan Sakit


“If we worry too much about ourselves, we won’t have time for others”
- Mother Teresa-

Kolkata, Kamis 26 September 2019

Sejak Selasa siang, hingga Rabu hujan tidak berhenti di Kolkata. Pagi kemarin badan saya terasa meriang, akibat kehujanan sehari sebelumnya. Rasanya ingin meneruskan tidur. Saya paksa bangun, tapi berangkat misa naik taksi. Ya sudahlah, sesekali sayang sama badan. Seperti biasa, misa, sarapan, briefing lalu berangkat ke Kalighat. Hujan belum berhenti.

Sempat terpikir, wah kayaknya aku sakit deh. Badan capek banget rasanya. Di dalam bis ke Kalighat saya ngobrol dengan Fransiska, ibu-ibu asal Perancis yang sudah hampir dua bulan bekerja di Kalighat.

"Hey, anda waktu seminggu pertama di sini merasa berat dan capek sekali tidak,sih?". Dia jawab,"iya. Tapi kalau kita khawatir berlebihan, kita tidak akan bisa memikirkan orang lain". Plak! Serasa ditampar rasanya.

Setiba di Kalighat, kami menyelesaikan cucian baju namun saat akan dijemur, kami kehabisan tempat menjemur karena hujan. Kami biarkan dulu menumpuk di keranjang. Tugas berikutnya membersihkan pispot sekaligus membersihkan toilet. Hari kemarin betul-betul kerja basah-basahan


Setelah bekerja, saya langsung menuju airport karena saya akan ke Darjeeling memanfaatkan hari libur relawan setiap Kamis. Saya akan menyusuri jejak Ibu Teresa di kota pegunungan itu kala novisiat dan mengucapkan Kaul Pertamanya setelah tiba di India.

Dari Kalkuta saya terbang ke Bagdogra lalu lanjut perjalanan lewat darat selama 3-4 jam. Di Siliguri, kota sebelum menuju Daljeering, saya bertamu ke keluarga sahabat saya saat SMA, Ucok Trosmada yang berkarya di kota kecil itu. Mereka sudah dua tahun tinggal di sana.Malam sudah cukup larut saat saya tiba di Daljeering. Tidur di atas awan, negeri India.

Woiii, umat Paroki Servatius. Kalo pada punya berita apa kek, poto apa kek, kegiatan apa kek, mao nyang lingkungan, apa nyang kategorial bisa ditongolin di media, kirim aja ke : parokisantoservatius@gmail.com